• Saatnya Indonesia menunjukkan tajinya

    28 December 2013
    1350 Views
    1

    Salah satu faktor yang sangat penting dalam sebuah pembangunan ekonomi industri adalah tingkat pembelian konsumen, jumlah konsumen, bahan baku dan juga biaya operasional industri. Negara-negara adidaya industri kini mengalami beberapa masalah di atas. Bahan baku yang terbatas karena alamnya tidak menunjang untuk mensuplainya, tingkat pembelian konsumen dalam negeri yang semakin menurun akibat turunnya tingkat penjualan produksi, ditambah biaya operasional yang semakin meninggi.

    Kencenderungan ini menjadikan negara-negara tersebut di atas mengerahkan banyak perhatian dan tenaga ke negara-negara lumbung bahan baku dan konsumen,. Diantara negara penyandang jumlah konsumen tinggi adalah China, India, dan Indonesia.  Tingginya tingkat konsumen sering berbanding lurus dengan besarnya populasi penduduk. Semakin tinggi populasi semakin besar pula tingkat konsumennya. Sedangkan negara dengan sumber kekayaan alam yang melimpah adalah negara di sekitar garis ekuator khatulistiwa seperti Indonesia, Brazil, sebagian negara di Benua Afrika, termasuk negara-negara timur tengah yang menjadi gudang dan syurganya minyak bumi.

    Bagi Negara dengan populasi penduduk besar, mereka dapat menjadikan potensi besar sumber daya manusianya itu untuk memutar roda perekonimian. Sehingga dengan hanya mengandalkan pasar dalam negeri mereka telah mampu menggerakkan jalannya ekonomi negara. China, India, Indonesia merupakan contoh negara yang memiliki kekuatan luar biasa itu. Kekuatan pasar dalam negeri yang kokoh menjadikan negara itu sedikit banyak tidak mendapat pengaruh dari fluktuasi pasar konsumen luar negeri. Tinggal siapa yang telah berhasil mengoptimalkannya.

    Kemudian bagi negara kaya dalam arti alamnya kaya akan potensi alam mempunyai peluang yang luar biasa untuk membangun ekonomi Negara demi kesejahteraan bangsanya. Bagaimanapun kuatnya industri sebuah bangsa tidak akan berkutik jika dihadapkan dengan permasalahan keterbatasan dan kelangkaan bahan baku yang menjadi biaya produksi menjadi melangit.

    Kecenderungan itu kian hari semakin terasa khususnya di negara Indonesia yang menyandang double nickname (julukan ganda), sebagai negara dengan pasar konsumen yang tinggi serta negara dengan kekayaan alam yang super bahkan dapat dikatakan terkaya di dunia. Bahan tambang, kekayaan laut, kesuburan tanah, kesesuaian iklim, keindahan alam dan lain sebagainya. Indonesia memang telah ditakdirkan menjadi negara yang indah di tengah gugusan zamrud khatulistiwa.

    Sebagai Negara yang memiliki potensi ganda itu tidak heran jika menjadi incaran para investor asing yang ingin menjejakkan kaki di bumi nusantara ini. Bagaimanapun pada saat ini Indonesia memang sedang memerlukan banyak dana untuk membantu mengolah kekayaan alam itu yang sampai saat itu belum berhasil meraih gelar “Negara bersatu, berdaulat, adil dan makmur” sesuai yang termaktub dalam pembukaan UUD 1945.

    Bangsa Indonesia sebenarnya mempunyai kesempatan yang besar untuk dapat menunjukkan tajinya sebagai Negara yang kaya. Sebagai tuan rumah seharusnya Indonesia berani menaikkan nilai tawar kepada siapa saja yang ingin menanamkan investasi di tanah air. Bukan sebaliknya terlalu longgar menyilakan semua pengusaha asing untuk tumbuh dan subur di tanah air dengan melupakan apakah memberi untung untuk bangsa sendiri atau tidak. Apalagi sampai berpikir akan memberikan kemakmuran untuk segenap bangsa.

    Sudah saatnya Indonesia berani bersuara untuk menaikkan nilai jual investasi di tanah air, baik itu bidang pertanian, perkebunan, otomotif, kehutanan, kelautan dan lain-lain yang memberikan keuntungan besar bagi seluruh rakyat bukan hanya segelintir kelompok yang tidak berhati nurani. Bukan saatnya lagi Indonesia menjadi kancah eksploitasi alam tanpa mendapat kemakmuran berarti dari kegiatan itu. Jangan biarkan bumi nusantara dan segenap penghuninya menangis akibat pengerukan isinya yang tak kenal batas dan tidak memberikan kesejahteraan.

    Syukur-syukur Indonesia mulai bangkit untuk dapat mengolah sumber daya alamnya dengan berpijak pada kaki sendiri. Pemerintah sebaiknya mendorong munculnya investor lokal yang mampu berkiprah di era persaingan usaha yang semakin ketat. Kadang terdengar ironis, di satu sisi Indonesia memiliki konglomerat-konglomerat berduit banyak, tetapi di sisi lain bangsa ini tidak mampu mengolah dan memproduksi dengan mengoptimalkan modal sendiri, bukan selalu tergantung dengan modal asing.

    Datangnya modal asing yang besar akan berbanding lurus dengan keleluasaan pemilik modal asing itu untuk menentukan kebijakan. Sehingga semakin besar modal itu masuk akan sangat berbahaya jika tidak difasilitasi dengan peraturan yang sangat ketat yang menguntungkan negeri sendiri. Upah minimum, daur ulang, peremajaan sumber daya alam, dan lain sebagainya.

    Saat ini adalah timing yang sangat tepat untuk Indonesia bangkit, berani, dan percaya diri untuk mengolah sumber daya alam dengan tangan sendiri di tengah mulai runtuhnya kekuatan-kekuatan raksasa dunia. Jangan sampai raksasa itu kembali hidup dengan memakan kekayaan alam nusantara ini. Sudah waktunya nusantara menjadi syurga bagi seluruh rakyat Indonesia.

    Continue Reading